Laman

Senin, 16 Juli 2012

Hal yang lebih penting daripada Ramadhan (Tentang Ikhlas)

Bismillahirrahmanirrahim

Assalamu 'alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh

Segala puji hanya bagi Allah, kami memuji-Nya, memohon pertolongan dan ampunan kepada-Nya, kami berlindung kepada Allah dari kejahatan diri-diri kami dan kejelekan amal perbuatan kami. Barangsiapa yang Allah beri petunjuk, maka tidak ada yang dapat menyesatkannya, dan barangsiapa yang Allah sesatkan, maka tidak ada yang dapat memberinya petunjuk.

Biasanya, ketika ramadhan sudah dekat, kita akan mulai membicarakan hal-hal yang berhubungan dengan ramadhan. Mulai dari status facebook sampai isi blog bagi mereka yang suka bergaul di dunia maya. Bahkan ketika kita telah memasuki ramadhan, segala pembicaraan yang kita katakan akan berhubungan dengan ramadhan. Ini sudah menjadi hal yang natural kita lakukan, atau mungkin bisa menjadi tradisi bagi sebagian orang. Mulai dari lailatul Qadr, Qiyyamul lail, dll.

Namun, hal yang sering terjadi adalah kita malah luput untuk memikirkan hal yang lebih penting dari Ramadhan. Tentu lebih penting daripada zakat, lebih penting daripada puasa, bahkan lebih penting daripada shalat. Atau apapun amalan baik yang akan anda katakan, akan berada dibawah topik yang satu ini. Banyak diantara kita merasa apa saja yang kita lakukan, baik itu shalat, baik itu puasa, atau apapun itu lebih penting dari hal yang satu ini. Padahal hal ini adalah hal yang paling dasar yang mesti kita ketahui.

Hal yang penting ini, jika kita tidak mengerti dan aplikasikan maka apa saja yang kita lakukan sia-sia. Puasa kita tidak baik, shalat kita tidak baik, zakat kita tidak baik, Islam kita tidak baik,dll. Jannah/Surga tidak bisa kita dapatkan jika kita tidak memiliki hal ini. Hal ini menggambarkan betapa pentingnya hal ini. Anda mungkin berdiri untuk shalat, tapi bisa saja shalat anda tidak diterima karena luputnya satu hal. Apakah itu? 

Hal tersebut adalah NIAT. Namun, tidak sesimpel niat yang orang ucapkan ketika shalat. Yang pertama, karena NIAT itu bukanlah hal yang diucapkan, jika ada yang mengucapkan niat sebelum shalat, maka hal tersebut adalah perkara yang diada-adakan yang haram untuk kita lakukan. Namun, niat yang kami maksutkan disini adalah niat yang baik, niat yang IKHLAS. Karena ketika kita berniat, niat itu juga ada dua jenis, ada niat baik, ada juga niat buruk. Niat Ikhlas, adalah niat untuk beribadah ikhlas karena Allah.

Apa itu ikhlas? Ikhlas adalah mengikhlaskan segala sesuatunya karena Allah Subhana wa ta'ala. Karena itu kita harus memurnikan ibadah kita hanya kepada Allah, sebagaimana Allah berfirman pada surah Al-Bayyinah ayat 5: 

Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan salat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus. 

Juga pada surah Al-Kahfi 110: 

"Sesunggunya Sesembahan kalian adalah sesembahan yang esa, barangsiapa yang mengharapkan perjumpaan dengan Robbnya maka hendaklah ia beramal ibadah dengan amalan yang sholeh dan tidak menyekutukan Robbnya dalam amal ibadahnya dengan suatu apapun".(QS : Al Kahfi: 110).

Jika seandainya kita disuruh untuk shalat, dan jika kita shalat kita akan diberikan uang, apakah amalan shalat kita akan diterima? Tidak, wahai saudaraku. Berdasarkan apa yang kami paparkan diatas, bahwa ketika kita beribadah, kita harus memurnikan ibadah kita hanya untukNya. Rasulullah juga pernah bersabda, Dari Amirul Mu'minin, (Abu Hafsh atau Umar bin Khottob rodiyallohu'anhu) dia berkata: 

"Aku pernah mendengar Rosululloh shollallohu'alaihi wassalam bersabda: 'Sesungguhnya seluruh amal itu tergantung kepada niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan sesuai niatnya. Oleh karena itu, barangsiapa yang berhijrah karena Alloh dan Rosul-Nya, maka hijrahnya kepada Alloh dan Rosul-Nya. Dan barangsiapa yang berhijrah karena (untuk mendapatkan) dunia atau karena wanita yang ingin dinikahinya maka hijrahnya itu kepada apa yang menjadi tujuannya (niatnya).'" (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam sebuah hadits qudsi juga disebutkan 

Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda "Allah ta'ala berfirman 'Aku adalah maha kaya yang tidak butuh akan sekutu-sekutu. Barangsiapa beramal dalam keadaan menyekutukan-Ku, niscaya Aku tinggalkan dia bersama dengan sekutu tersebut'" (HR. Muslim).

Di beberapa negara, termasuk Indonesia, ketika ada yang pulang dari haji, kebanyakan dari mereka menggunakan nama Haji/Hajjah di depan nama mereka. Tentu hal seperti ini tidak pernah terjadi di zaman Rasulullah. Yang paling buruk dari hal ini adalah memancingnya riya dalam hati. Tidak jarang kita lihat orang yang kadang tersinggung jika dia sudah pergi haji, dan dia tidak menyahut jika namanya tidak ditambahkan dengan kata 'haji' di depannya. Naudzubillahi min dzalik. #lalu gimana dengan yang 3 kali haji? masa kita harus memanggilnya dengan kata 'haji haji haji' di depan namanya

Jauh berbeda dengan para salaf, mereka menyembunyikan amalan ibadahnya. Berbeda dengan kita yang ada sekarang, kita malah hanya menyembunyikan amalan buruk kita, tapi menggembor-gemborkan amalan baik kita. Berikut ini adalah contoh-contoh dari para salaf yang menyembunyikan amalan ibadah mereka yang kami ambil dari sebuah website :

Pertama: Menyembunyikan amalan shalat sunnah
Ar Robi bin Khutsaim –murid 'Abdullah bin Mas'ud- tidak  pernah mengerjakan shalat sunnah di masjid kaumnya kecuali hanya sekali saja.[3]
Kedua: Menyembunyikan amalan shalat malam
Ayub As Sikhtiyaniy memiliki kebiasaan bangun setiap malam. Ia pun selalu berusaha menyembunyikan amalannya. Jika waktu shubuh telah tiba, ia pura-pura mengeraskan suaranya seakan-akan ia baru bangun ketika itu. [4]
Ketiga: Bersedekah secara sembunyi-sembunyi.
Di antara golongan yang mendapatkan naungan Allah di hari kiamat nanti adalah,
وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فَأَخْفَاهَا حَتَّى لاَ تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِينُهُ
"Seseorang yang bersedekah kemudian ia menyembunyikannya sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang disedekahkan oleh tangan kanannya."[5] Permisalan sedekah dengan tangan kanan dan kiri adalah ungkapan hiperbolis dalam hal menyembunyikan amalan. Keduanya dipakai sebagai permisalan karena kedekatan dan  kebersamaan kedua tangan tersebut.[6]
Contoh yang mempraktekan hadits di atas adalah 'Ali bin Al Husain bin 'Ali. Beliau biasa memikul karung berisi roti setiap malam hari. Beliau pun membagi roti-roti tersebut ke rumah-rumah secara sembunyi-sembunyi. Beliau mengatakan,
إِنَّ صَدَقَةَ السِّرِّ تُطْفِىءُ غَضَبَ الرَّبِّ عَزَّ وَ جَلَّ
"Sesungguhnya sedekah secara sembunyi-sembunyi akan meredam kemarahan Rabb 'azza wa jalla." Penduduk Madinah tidak mengetahui siapa yang biasa memberi mereka makan. Tatkala 'Ali bin Al Husain meninggal dunia, mereka sudah tidak lagi mendapatkan kiriman makanan setiap malamnya. Di punggung Ali bin Al Husain terlihat bekas hitam karena seringnya memikul karung yang dibagikan kepada orang miskin Madinah di malam hari. Subhanallah, kita mungkin sudah tidak pernah melihat makhluk semacam ini di muka bumi ini lagi.[7]
Keempat: Menyembunyikan amalan puasa sunnah.
Dalam rangka menyembunyikan amalan puasa sunnah, sebagian salaf senang berhias agar tidak nampak lemas atau lesu karena puasa. Mereka menganjurkan untuk menyisir rambut dan memakai minyak di rambut atau kulit di kala itu. Ibnu 'Abbas mengatakan,
إِذَا كَانَ صَوْمُ أَحَدِكُمْ فَلْيُصْبِحْ دَهِينًا مُتَرَجِّلاً
"Jika salah seorang di antara kalian berpuasa, maka hendaklah ia memakai minyak-minyakan dan menyisir rambutnya."[8]
Daud bin Abi Hindi berpuasa selama 40 tahun dan tidak ada satupun orang, termasuk keluarganya yang mengetahuinya. Ia adalah seorang penjual sutera di pasar. Di pagi hari, ia keluar ke pasar sambil membawa sarapan pagi. Dan di tengah jalan menuju pasar, ia pun menyedekahkannya. Kemudian ia pun kembali ke rumahnya pada sore hari, sekaligus berbuka dan makan malam bersama keluarganya.[9] Jadi orang-orang di pasar mengira bahwa ia telah sarapan di rumahnya. Sedangkan orang-orang yang berada di rumah mengira bahwa ia menunaikan sarapan di pasar. Masya Allah, luar biasa trik beliau dalam menyembunyikan amalan.
Begitu pula para ulama seringkali membatalkan puasa sunnahnya karena khawatir orang-orang mengetahui kalau ia puasa. Jika Ibrohim bin Ad-ham diajak makan (padahal ia sedang puasa), ia pun ikut makan dan ia tidak mengatakan, "Maaf, saya sedang puasa".[10] Itulah para ulama, begitu semangatnya mereka dalam menyembunyikan amalan puasanya.
Kelima: Menyembunyikan bacaan Al Qur'an dan dzikir
Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
الْجَاهِرُ بِالْقُرْآنِ كَالْجَاهِرِ بِالصَّدَقَةِ وَالْمُسِرُّ بِالْقُرْآنِ كَالْمُسِرِّ بِالصَّدَقَةِ
"Orang yang mengeraskan bacaan Al Qur'an sama halnya dengan orang yang terang-terangan dalam bersedekah. Orang yang melirihkan bacaan Al Qur'an sama halnya dengan orang yang sembunyi-sembunyi dalam bersedekah."[11]
Setelah menyebutkan hadits di atas, At Tirmidzi mengatakan, "Hadits ini bermakna bahwa melirihkan bacaan Qur'an itu lebih utama daripada mengeraskannya karena sedekah secara sembunyi-sembunyi lebih utama dari sedekah yang terang-terangan sebagaimana yang dikatakan oleh para ulama. Mereka memaknakan demikian agar supaya setiap orang terhindar dari ujub. Seseorang yang menyembunyikan amalan tentu saja lebih mudah terhindar dari ujub daripada orang yang terang-terangan dalam beramal."
Yang dipraktekan oleh para ulama, mereka sampai-sampai menutupi mushafnya agar orang tidak tahu kalau mereka membaca Qur'an. Ar Robi' bin Khutsaim selalu melakukan amalan dengan sembunyi-sembunyi. Jika ada orang yang akan menemuinya, lalu beliau sedang membaca mushaf Qur'an, ia pun akan menutupi Qur'annya dengan bajunya.[12] Begitu pula halnya dengan Ibrohim An Nakho'i. Jika ia sedang membaca Qur'an, lalu ada yang masuk menemuinya, ia pun segera menyembunyikan Qur'annya.[13] Mereka melakukan ini semua agar amalan sholihnya tidak terlihat oleh orang lain.
Keenam: Menyembunyikan tangisan
Sufyan Ats Tsauri mengatakan, "Tangisan itu ada sepuluh bagian. Sembilan bagian biasanya untuk selain Allah (tidak  ikhlas) dan satu bagian saja yang biasa untuk Allah. Jika ada satu tangisan saja dilakukan dalam sekali setahun (ikhlas) karena Allah, maka itu pun masih banyak."[14]
Dalam rangka menyembunyikan tangisnya, seorang ulama sampai pura-pura mengatakan bahwa dirinya sedang pilek karena takut terjerumus dalam riya'. Itulah yang dicontohkan oleh Ayub As Sikhtiyaniy. Ia pura-pura mengusap wajahnya, lalu ia katakan, "Aku mungkin sedang pilek berat." Tetapi sebenarnya ia tidak pilek, namun ia hanya ingin menyembunyikan tangisannya.[15]
Sampai-sampai salaf pun ada yang pura-pura tersenyum ketika ingin mengeluarkan tangisannya. Tatkala Abu As Sa-ib ingin menangis ketika mendengar bacaan Al Qur'an atau hadits, ia pun pura-pura menyembunyikan tangisannya (di hadapan orang lain) dengan sambil tersenyum.[16]
Mu'awiyah bin Qurroh mengatakan, "Tangisan dalam hati lebih baik daripada tangisan air mata."[17]
Ketujuh: Menyembunyikan do'a
'Uqbah bin 'Abdul Ghofir mengatakan, "Do'a yang dilakukan sembunyi-sembunyi lebih utama 70 kali dari do'a secara terang-terangan. Jika seseorang melakukan amalan kebaikan secara terang-terangan dan melakukannya secara sembunyi-sembunyi semisal itu pula, maka Allah pun akan mengatakan pada malaikat-Nya, "Ini baru benar-benar hamba-Ku."[18]

(Contoh diatas diambil dari http://rumaysho.com/belajar-islam/aqidah/2784-tanda-ikhlas-berusaha-menyembunyikan-amalan-.html)

Kembali ke masalah haji, tidak jarang diantara banyak orang yang dengan sengaja mengambil fotonya pada saat haji untuk diperlihatkan pada orang lain. Dan hal ini sangat berbeda jauh dari pada para salaf. Dan tanpa kita sadari, kita menjauhkan amalan kita dari diterima oleh Allah. 

Karena itu, seharusnya kita harus punya pengukur niat. Seperti halnya spedometer yang selalu kita cek ketika sedang mengendarai mobil agar kita tidak melebihi kecepatan. Semua orang mudah mengendarai mobil, tapi kadang mereka lupa mengecek spedometer mereka, dan akhirnya ditilang. Seperti itu pulalah ibadah, kita bisa saja melakukannya karena sering dan terbiasa, tapi bukan tidak mungkin kita lupa mengecek niat kita, untuk apa kita melakukan ibadah.

Tulisan ini ada untuk menjaga kita agar tetap memurnikan niat agar amalan ibadah kita diterima oleh Allah Subhana wa ta'ala

Wa billahi taufiq wal hidayah






source list: , , , , , TEMPLATE BY Opa Soparudin © 2012. Just for Sharing!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar